Akhirnya, kembali ke kotak juga

puncak-suksesDikisahkan, dahulu kala, di Sillicon Valley tinggallah seorang pria yang merupakan orang penting dan sibuk. Ia secara rutin menghabiskan 12 sampai 14 jam sehari di tempat kerjanya dan sering kali ia menggunakan akhir pekannya untuk bekerja. Ia meraih gelar MBA dan bergabung dengan organisasi profesional dan dewan direksi untuk memperluas koneksinya.

Ia mendengarkan pelajaran-pelajaran bisnis melalui CD player di dalam mobilnya dengan cara mempercepat suara pembacanya agar ia dapat menyelesaikan semuanya dalam waktu setengah kali lebih cepat dari waktu normal. Bahkan ketika ia tidak sedang bekerja, pikirannya melayang ke pekerjaanya sehingga itu tidak lagi menjadi sekedar pekerjaanya, namun menjadi keasyikan yang luar biasa.

Istrinya berusaha membuatnya lebih santai, mengingatkannya bahwa ia mempunyai keluarga. Pria ini tahu bahwa mereka tidak sedekat dulu, tetapi bagaimanapun, toh ia tidak menghabiskan waktu untuk mengeluyur, demikian pikirnya. Tampaknya sang istri hanya menginginkan waktu dari sang suami, dan itulah yang tidak dimiliki sang suami saat ini, karena semua waktunya telah habis terkuras untuk urusan pekerjaan.

Di tengah segala kesibukannya, pria ini tidak menyadari bahwa anak-anaknya sedang bertumbuh dan ia pun melewatkan keindahan itu. Dari waktu ke waktu anak-anaknya mengeluh bahwa ia tidak pernah membacakan buku lagi untuk mereka, melakukan berbagai permainan bersama, atau sekedar makan siang di akhir pekan. Namun, setelah beberapa saat mereka berhenti mengeluh, karena mereka berhenti berharap bahwa kehidupan keluarga mereka suatu saat nanti akan berubah.

“Aku akan bisa meluangkan waktu lebih banyak bagi mereka dalam enam bulan ke depan atau lebih”, katanya pada diri sendiri, “ketika segala sesuatunya sudah tenang dan teratur.” Dan meskipun ia adalah seorang pria yang sangat cerdas, tampaknya ia tidak menyadari bahwa berbagai hal tidak akan pernah tenang dan teratur. Dan lagi, ia berkata pada dirinya sendiri saat ia merasa bersalah, “Toh, aku melakukan semua itu untuk mereka.”

Padahal, tentu saja hal ini sedikit pun tidak benar. Ia akan tetap menjalani kehidupan seperti ini bahkan sekalipun ia tidak memiliki istri dan anak-anak. Nyatanya, ia tetap menjalani kehidupan seperti ini bahkan sekalipun mereka memohon padanya untuk berubah. Namun karena mereka tidak keluar dari rumah dan tinggal di rumah kardus, karena mereka tinggal di rumah dan makan makanan serta mengenakan pakaian dan memainkan video game yang semuanya disediakan oleh uangnya, ia dapat mengatakan pada dirinya sendiri, “Aku melakukan semua itu untuk mereka.” Sayangnya tak seorang pun yang cukup mengenal dan mengasihinya yang memberitahunya tentang kebenaran ini. (http://www.eloyzalukhu.blogspot.com)

Kesehatan & Spiritual

Pria ini tahu bahwa ia tidak cukup merawat tubuhnya. Dokternya mengatakan bahwa ia memiliki gejala-gejala yang cukup serius – tekanan darah naik, kolesterol tinggi – dan mengatakan padanya bahwa ia perlu berhenti mengkonsumsi twinkies (kue yang di dalamnya berisi krim) dan daging merah serta mulai berolahraga. Tetapi ia malah berhenti menemui dokternya. “Akan ada banyak waktu untuk melakukan hal itu”, katanya pada diri sendiri, “ketika segala sesuatunya sudah tenang dan teratur.”

Ia mengakui bahwa kehidupannya tidaklah seimbang. Istrinya mengingatkannya agar pergi beribadah – ada satu rumah ibadah di ujung jalan. Ia bermaksud pergi kesana, namun minggu pagi adalah satu-satunya waktu dimana ia dapat beristirahat. Ia bangga menjadi orang praktis yang hidup di dunia nyata dimana uanglah yang membuat seseorang memiliki nilai. “Lagi pula, aku bisa menjadi orang baik tanpa pergi ke rumah ibadah,” katanya pada diri sendiri. “Akan ada cukup waktu untuk hal seperti itu ketika segala sesuatunya sudah tenang dan teratur.”

Kesuksesan Besar

Waktu terus berlalu dan suatu hari kepala operasional perusahaanya datang menemuinya. “Kau pasti tidak percaya hal ini, bisnis kita meledak pesat sampai-sampai kita tidak dapat mengatasinya. Ini luar biasa. Ini adalah kesempatan emas kita, tetapi diperlukan perubahan besar-besaran. Permintaan datang begitu cepat sehingga persediaan kita tidak sebanding dengan permintaan. Kita memiliki data inventori yang payah dan software kita sudah ketinggalan zaman. Jika kita tidak mengontol setiap pekerjaan dari atas sampai ke bawah, semuanya akan berakhir sebagai bencana.”

Pria ini berpikir keras. Ia ingin menangkap peluang yang ada. Ia bertekad untuk membuat perusahaannya mengalami revolusi teknologi. Semuanya akan dibuat nirkabel – 24 jam / 7 hari akses bagi setiap orang, perintah secara umum akan diberikan melalui telepon yang menggunakan hands-free. Ia memikirkan motto perusahaan yang baru – “Kita hidup untuk ini!” – dan mencetaknya di atas semua benda.

Ini adalah satu kesempatan seumur hidup. Dan karena ketekunannya ia berhasil meraih target yang ia tetapkan. Ia sekarang selalu ada bagi setiap orang di seluruh dunia kecuali bagi mereka yang paling membutuhkannya, dan mereka yang paling ia butuhkan – istrinya, anak-anaknya, dirinya sendiri, teman-temannya, dan Tuhannya.

Malam itu ia berkata kepada istrinya, “Kamu menyadari apa artinya semua ini? Kita bisa santai. Masa depan kita terjamin – kita aman. Aku menguasai pasar; aku mengetahui setiap pokok persoalan dan dapat mengantisipasi setiap kemungkinan. Ini artinya kita memiliki keamanan finansial. Akhirnya, kita bisa pergi berlibur seperti yang pernah kau minta.” Istrinya menyimak semua kalimat itu namun ia telah mendengar hal yang sama sebelumnya. Ia telah belajar untuk tidak terlalu berharap karena takut kecewa untuk kesekian kalinya. Pada pukul 23:00 ia naik ke tempat tidur sendirian – seperti biasanya.

Istrinya terjaga pukul 03:00 pagi, dan sang suami tetap belum ada di sampingnya. Sang istri turun ke lantai bawah untuk menariknya ke kamar tidur dan mendapati sang suami tertidur di atas meja komputernya. “Ini menggelikan”, katanya pada dirinya sendiri. “Ini seperti menikahi seorang anak kecil”. Suaminya lebih memilih tertidur di depan komputer daripada pergi ke tempat tidur.

Sang istri menyentuh bahunya untuk membangunkannya, namun ia tidak merespons, dan kulitnya tetap dingin. Panik, ia merasakan sakit di perutnya saat ia menelepon 911. ketika paramedis sampai di sana, mereka mengatakan bahwa ia mengalami serangan jantung, dan telah meninggal beberapa jam yang lalu.

End of Life

Kematiannya menjadi cerita yang menghebohkan di komunitas keuangan. Berita kematiannya di tulis di majalah Forbes dan Wall Street Journal. Sayang sekali ia sudah meninggal, karena ia pasti akan sangat senang membaca apa yang mereka tulis tentang dia.

Lalu tibalah pada pemakaman. Karena ketenarannya, seluruh komunitas datang ke pemakamannya. Orang-orang mengelilingi peti jenazah dan memberikan komentar bodoh, sama seperti yang biasa diucapkan orang-orang di pemakaman, seperti, “Ia tampak begitu damai”. Padahal, jelas kekakuan mayat akan melakukan hal seperti itu.

Kematian adalah cara yang digunakan untuk mengatakan kepada kita untuk memperlambat ritme hidup kita. Orang-orang yang datang ke pemakaman mengajukan pertanyaan yang sama seperti yang dilakukan orang-orang ketika seorang kaya meninggal, “Aku bertanya-tanya seberapa banyak harta yang ia tinggalkan?” Jelas, ia meninggalkan semuanya. Setiap orang selalu meninggalkan semuanya.

Orang-orang mulai memujinya. Kebanyakan mereka membicarakan mengenai prestasinya, karena sementara setiap orang mengenal tentang dia, tak seorang pun yang benar-benar mengenalinya.

“Ia adalah salah satu pengusaha terkemuka saat ini,” demikian kata salah seorang dari mereka. “Ia adalah inovator dalam bidang teknologi dan sistem pengiriman,” kata seorang yang lain. “Ia adalah pria yang berprinsip,” kata seorang yang lain lagi, “Ia tidak pernah menipu dalam membayar pajak.” Seorang pengagum lainnya memperhatikan prestasinya dalam bidang umum: “Ia adalah sokoguru dalam komunitas. Ia mengenal setiap orang. Orang ini adalah seorang yang gemar membangun jaringan.”

Kemudian, mereka membuat tugu peringatan dari batu pualam untuknya. Di atasnya mereka menuliskan kata-kata yang menginspirasi ini: Visioner, Inovator, Pemimpin, Pengusaha. Di bagian atasnya mereka menuliskan kata favorit pria ini, sebuah kata yang diberikan pria ini kepada jiwanya, yaitu: Sukses. Mereka meletakkan nisan pria ini, mengubur jasadnya, lalu pulang ke rumah mereka masing-masing.

Pada saat mulai larut malam dan tak seorang pun hadir untuk menyaksikan apa yang terjadi, malaikat Tuhan diutus ke makam ini. Tak terlihat dan tak terdengar, sang malaikat berjalan menyusuri makam-makam lainnya sampai ia tiba di nisan indah pria ini. Di sana sang malaikat menulis dengan satu jari, kata yang Tuhan pilih untuk menggambarkan kehidupan pria yang kaya, sibuk, dihormati, dan sukses ini, yaitu kata: Bodoh.

Tuhan berkata, “Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga nyawamu akan diambil dari padamu, dan apa yang telah kau kumpulkan, untuk siapakah itu nanti?” (Disarikan dari buku John Ortberg, “When the Games is Over, It all Goes Back in the Box”.)

Sahabat Star, dari cerita tersebut di atas dapat kita renungkan bersama. Apa yang ingin Anda capai? Apa yang menjadi prioritas Anda? Apa yang sebenarnya membuat Anda benar2 bahagia? Apakah Anda masih bisa menikmatinya saat apa yang Anda impikan dapat tercapai?

“Terkadang apa yang sebenarnya kita cari berada di ujung jari, namun kita terlambat untuk menyadari.”

Jika pasangan Anda masuk dalam lingkaran kebahagiaan lakukan sesuatu pada pasangan Anda. SMS, BBM, Telpon atau lewat sosial media. Katakan pada pasangan Anda “Saya sayang sama kamu”. Kirimkan sesuatu yang sederhana kesukaan mereka dalam waktu yang mendadak ( coklat, bunga dll) jika jarak jauh kirimkan paket kepada mereka.

Jika anak2 Anda merupakan prioritas dalam kebahagiaan Anda. Lakukan sesuatu untuk mereka. Belikan makanan (ice cream) favourite mereka sepulang kerja. Atau belikan buku/CD film kesukaan mereka.

Jika orang tua merupakan linkaran prioritas Anda, dan Anda berada di dekat mereka. Kunjungi mereka. Jika terlalu jauh karena diperantauan hubungilah mereka fia telpon. Buatlah mereka mengerti betapa Anda menghargai, menyayangi dan merindukan mereka. Tunjukkan juga bakti Anda kepada mereka. Jangan hanya berbakti kepada perusahaan dimana Anda bekerja. Tunjukkan juga kepada orang tua tercinta…

Kita tidak akan pernah mengetahui sampai kapan hidup kita, yang jelas setelah selesai jatah kita kita akan kembali ke sebuah kotak seukuran tubuh kita dan berbalut selembar kain putih. Sebelum waktu itu tiba, semoga kita sudah melakukan yang terbaik yang bisa kita lakukan.

Sukses Untuk Anda semua

Widayanto Bintang

@TrainerAmpuh

 

Comments(2)
  1. Mirella Fatika Balqiszura January 20, 2015
  2. Kathi February 2, 2015

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.